Produksi Padi Banten 2025 Naik, Stok Beras Terjaga

Kinerja sektor pertanian di Provinsi Banten sepanjang 2025 menunjukkan tren yang cukup positif. Berdasarkan berita resmi statistik, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat adanya peningkatan signifikan pada luas panen padi, produksi padi, hingga produksi beras untuk konsumsi masyarakat jika dibandingkan dengan tahun 2024.
Kenaikan ini menjadi kabar penting di tengah isu ketahanan pangan dan fluktuasi harga beras yang kerap terjadi secara nasional. Dengan produksi yang meningkat, Banten memiliki modal lebih kuat untuk menjaga ketersediaan beras bagi kebutuhan masyarakatnya.
Luas Panen Padi 2025 Meningkat Lebih dari 15 Persen
BPS mencatat, luas panen padi di Provinsi Banten sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai 345,42 ribu hektare. Angka ini meningkat cukup tajam dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar 299,09 ribu hektare.
Dengan demikian, terjadi penambahan luas panen sekitar 46,33 ribu hektare, atau tumbuh 15,49 persen secara tahunan. Peningkatan ini mencerminkan aktivitas pertanaman padi yang lebih luas dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi waktu, terdapat pergeseran puncak panen. Jika pada 2024 puncak panen terjadi pada April, maka pada 2025 puncak panen bergeser ke bulan Maret. Pada bulan tersebut, luas panen mencapai sekitar 72 ribu hektare, menjadi yang tertinggi sepanjang tahun.
Secara wilayah, kontribusi terbesar terhadap kenaikan luas panen berasal dari daerah-daerah sentra pertanian. Kabupaten Pandeglang mencatat kenaikan paling signifikan, dari sekitar 77 ribu hektare pada 2024 menjadi lebih dari 105 ribu hektare pada 2025. Kabupaten Lebak juga mengalami kenaikan cukup besar.
Sementara itu, beberapa wilayah perkotaan justru menunjukkan tren sebaliknya. Kota Tangerang dan Kota Cilegon mengalami penurunan luas panen, yang tidak terlepas dari keterbatasan lahan dan alih fungsi lahan pertanian.
Produksi Padi Ikut Terdongkrak, Capai 1,77 Juta Ton GKG
Seiring bertambahnya luas panen, produksi padi di Provinsi Banten juga mengalami peningkatan. Sepanjang 2025, total produksi padi tercatat sebesar 1,77 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).
Jumlah ini naik sekitar 223,39 ribu ton GKG, atau 14,41 persen, dibandingkan produksi padi pada 2024 yang sebesar 1,55 juta ton GKG.
Baca juga Petani Jadi Korban Buruknya Pengelolaan Sampah di Kota Serang
Produksi tertinggi terjadi pada bulan Maret, sejalan dengan puncak panen. Pada bulan tersebut, produksi padi mencapai hampir 399 ribu ton GKG. Sementara produksi terendah tercatat pada bulan Januari, yang memang masih berada pada fase awal musim tanam.
BPS menjelaskan, produksi padi merupakan hasil perkalian antara luas panen dan produktivitas. Dengan bertambahnya luas panen dan produktivitas yang relatif terjaga, peningkatan produksi pada 2025 menjadi hal yang logis secara statistik.
Jika dilihat berdasarkan wilayah, tiga daerah dengan produksi padi tertinggi di Banten pada 2025 adalah Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Serang. Ketiganya menjadi tulang punggung produksi padi di provinsi ini.
Sebaliknya, wilayah perkotaan seperti Kota Tangerang dan Kota Cilegon mencatat produksi padi yang relatif kecil dan bahkan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Produksi Beras untuk Konsumsi Tembus 1,01 Juta Ton
Dari sisi ketersediaan pangan, indikator yang paling krusial adalah produksi beras untuk konsumsi masyarakat. Berdasarkan hasil konversi dari produksi padi, BPS mencatat bahwa produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk di Provinsi Banten sepanjang 2025 mencapai 1,01 juta ton.
Angka ini meningkat sekitar 127,23 ribu ton, atau 14,41 persen, dibandingkan produksi beras pada 2024 yang tercatat sebesar 883,13 ribu ton.
Kenaikan produksi beras ini menjadi sinyal positif bagi ketahanan pangan daerah. Dengan produksi di atas satu juta ton, pasokan beras domestik Banten dinilai relatif lebih aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan nonrumah tangga seperti hotel, restoran, dan katering.
Produksi beras tertinggi pada 2025 tercatat pada bulan April, sementara produksi terendah terjadi pada Januari. Pola ini mengikuti siklus panen padi yang berlangsung sepanjang tahun.
Sentra Produksi Masih Jadi Penopang Utama
Analisis data BPS menunjukkan bahwa peningkatan produksi padi dan beras di Banten masih sangat bergantung pada daerah-daerah sentra pertanian. Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak menjadi kontributor utama kenaikan produksi, baik dari sisi padi maupun beras.
Di sisi lain, wilayah perkotaan cenderung mengalami stagnasi bahkan penurunan. Hal ini menjadi catatan penting, mengingat tekanan alih fungsi lahan pertanian di kawasan perkotaan dan penyangga ibu kota terus meningkat.
BPS juga menegaskan bahwa sejak 2018, penghitungan luas panen padi dilakukan menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA). Metode ini berbasis pengamatan lapangan dan citra satelit, sehingga data yang dihasilkan lebih objektif dan akurat. Dengan metodologi tersebut, tren kenaikan pada 2025 dinilai mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Produksi Menguat, Tantangan Masih Ada
Secara keseluruhan, perbandingan antara 2024 dan 2025 menunjukkan tren yang konsisten. Luas panen meningkat, produksi padi naik, dan produksi beras untuk konsumsi masyarakat bertambah signifikan.
Capaian ini menjadi modal penting bagi Pemerintah Provinsi Banten dalam menjaga stabilitas pangan daerah. Namun, tantangan ke depan tetap tidak ringan. Ketergantungan pada wilayah tertentu, perubahan iklim, serta alih fungsi lahan pertanian masih berpotensi memengaruhi keberlanjutan produksi.
Karena itu, peningkatan produksi perlu diiringi dengan kebijakan perlindungan lahan pertanian, peningkatan produktivitas petani, serta penguatan distribusi beras agar dampaknya benar-benar dirasakan oleh masyarakat, terutama dalam bentuk harga yang stabil dan pasokan yang terjaga.
Dengan kinerja produksi sepanjang 2025 ini, Provinsi Banten setidaknya memiliki pijakan yang lebih kuat dalam menjaga ketersediaan beras. Tantangannya kini adalah memastikan tren positif tersebut dapat dipertahankan, sekaligus menjawab dinamika kebutuhan pangan masyarakat ke depan. (red)





