Banten

Hingga November 2025, Sebanyak 430 Ribu Orang Banten Masih Menganggur

BANTEN – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Banten pada paruh akhir 2025 menunjukkan pergerakan yang patut dicermati.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), TPT Banten pada Agustus 2025 tercatat sebesar 6,69 persen, sementara pada November 2025 turun menjadi 6,63 persen. Ada penurunan, tetapi sangat tipis yang hanya 0,05 persen poin dalam tiga bulan.

Penurunan ini memang memberi sinyal positif, namun belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa persoalan pengangguran di Banten benar-benar teratasi. Sebab, di balik angka agregat tersebut, terdapat dinamika ketenagakerjaan yang tidak sepenuhnya mulus.

Persentase Turun Tipis, Jumlah Penganggur Bertambah

Secara persentase, TPT memang menurun dari Agustus ke November 2025. Namun secara absolut, jumlah pengangguran justru meningkat. BPS mencatat, jumlah penganggur di Banten naik dari sekitar 412 ribu orang pada Agustus 2025 menjadi 430 ribu orang pada November 2025.

Baca juga Pengangguran di Kota Serang Masih Tinggi

Fenomena ini terjadi karena jumlah angkatan kerja bertambah lebih cepat. Pada November 2025, angkatan kerja Banten mencapai 6,48 juta orang, naik sekitar 314 ribu orang dibanding Agustus 2025. Dengan bertambahnya angkatan kerja, persentase pengangguran bisa turun meski jumlah orang yang menganggur bertambah.

Artinya, pasar kerja Banten memang menyerap tenaga kerja baru, tetapi belum cukup untuk mengimbangi lonjakan pencari kerja.

Serapan Kerja Ada, Tapi Belum Merata

Selama Agustus–November 2025, jumlah penduduk bekerja di Banten meningkat cukup signifikan, yakni bertambah sekitar 296 ribu orang. Sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan, disusul industri pengolahan serta perdagangan.
Namun, peningkatan penyerapan tenaga kerja ini tidak sepenuhnya berada di sektor formal.

Data BPS menunjukkan, proporsi pekerja formal justru menurun dari Agustus ke November 2025, sementara pekerja informal kembali meningkat. Ini menandakan bahwa sebagian lapangan kerja baru bersifat tidak tetap, rentan, dan minim perlindungan.
Dalam konteks pengangguran terbuka, kondisi ini berisiko memunculkan pengangguran terselubung di masa mendatang.

Pengangguran Laki-laki Lebih Banyak

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, dinamika pengangguran di Banten menunjukkan kontras. Pada November 2025, TPT laki-laki naik menjadi 7,07 persen, meningkat 0,62 persen poin dibanding Agustus 2025. Sebaliknya, TPT perempuan justru turun cukup tajam menjadi 5,91 persen, atau turun 1,21 persen poin.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa laki-laki lebih terdampak oleh ketatnya persaingan kerja dalam periode ini, terutama di sektor-sektor yang selama ini menjadi penyerap tenaga kerja utama laki-laki, seperti industri dan konstruksi.

Perkotaan Makin Tertekan

Perbandingan Agustus–November 2025 juga menunjukkan tekanan pengangguran yang makin terasa di wilayah perkotaan. Pada November 2025, TPT perkotaan mencapai 7,19 persen, naik 1 persen poin dibanding Agustus 2025. Sebaliknya, TPT perdesaan justru turun tajam menjadi 4,46 persen.

Kondisi ini menegaskan bahwa wilayah perkotaan di Banten, khususnya kawasan industri dan jasa, sedang menghadapi tantangan serius. Persaingan kerja semakin ketat, sementara ekspansi lapangan kerja formal belum cukup agresif.

Lulusan Perguruan Tinggi Makin Rentan

Data BPS juga memperlihatkan persoalan struktural pengangguran. Pada November 2025, TPT tertinggi justru berasal dari lulusan Diploma I/II/III sebesar 13,18 persen, disusul lulusan Diploma IV hingga S3 sebesar 7,76 persen.

Selama Agustus–November 2025, pengangguran di kelompok pendidikan tinggi mengalami kenaikan cukup signifikan. Ini menjadi alarm keras bahwa dunia kerja belum sepenuhnya mampu menampung tenaga kerja terdidik, sekaligus menyoroti persoalan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri.

Penurunan yang Belum Menenangkan

Penurunan TPT dari 6,69 persen menjadi 6,63 persen dalam periode Agustus–November 2025 memang patut diapresiasi. Namun, penurunan ini belum bisa disebut sebagai perbaikan yang kokoh. Bertambahnya jumlah penganggur, meningkatnya pengangguran di perkotaan, serta naiknya TPT pada kelompok pendidikan tertentu menjadi catatan serius.

Bagi Pemprov Banten, data ini menjadi pengingat bahwa kebijakan ketenagakerjaan tidak cukup hanya mendorong angka penyerapan kerja. Yang lebih penting adalah memastikan kualitas pekerjaan, keberlanjutan sektor formal, serta kesesuaian antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.
Jika tidak, penurunan TPT hanya akan menjadi angka statistik—sementara persoalan pengangguran di lapangan tetap membayangi kehidupan masyarakat Banten. (red)

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button