Bisnis Parsel, Cuan Menawan Jelang Lebaran
BANTEN –Tangan-tangan cergas itu tak pernah benar-benar berhenti merakit parsel. Satu per satu toples, minyak goreng, mi instan, hingga biskuit dirangkai dengan telaten menggunakan lem tembak. Plastik pembungkus ditarik perlahan, lalu diselotip dengan penuh kehati-hatian agar presisi. Sesekali, lem tembak dipakai untuk merekatkan pita dan ornamen hiasan.
Di sudut ruangan sederhana, Gholiatul Qonia, pemilik G7 Project, bersama sang suami sibuk merampungkan pesanan parsel untuk Lebaran Idul Fitri 1447 Masehi/2026 Hijriah.
Sejak 2023, pasangan ini serius mengembangkan usaha parsel, melanjutkan bisnis buket yang sudah mereka rintis lebih dulu. Ramadan tahun ini terasa berbeda. Pesanan datang lebih cepat dibanding tahun sebelumnya.
“Kalau tahun kemarin, yang nanya-nanya itu biasanya mendekati Lebaran. Sekarang sebelum Ramadan saja sudah banyak yang tanya harga dan jenis-jenisnya,” ujarnya saat ditemui, Selasa (03/03/2026).
Ibu satu anak yang akrab disapa Lia ini menjelaskan bahwa sistem pemesanan di G7 Project menerapkan pre-order dengan kewajiban uang muka (DP). Kebijakan tersebut diterapkan setelah ia sempat mengalami kejadian pesanan dibuat tanpa DP, namun kemudian dibatalkan secara sepihak oleh pemesan.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi, menyesuaikan kantong pelanggan. Mulai dari parsel anak-anak berisi aneka jajanan seharga Rp10.000, paket sembako mulai Rp35.000, hingga parsel custom yang isinya disesuaikan dengan anggaran yang disiapkan pemesan.
Untuk isi sembako biasanya terdiri dari minyak goreng, gula, mi instan, dan kebutuhan pokok lainnya. Sementara untuk paket snack, tersedia sirup, Tini Wini Biti, Choco Mania, Good Time, Oreo, Pocky, dan aneka camilan lain.
“Jadi mau berapa pun budget-nya bisa, kita sesuaikan,” katanya.
Hingga awal Ramadan ini, pesanan yang sudah masuk dan membayar DP tercatat lebih dari 60 paket parsel dan hampers. Setiap hari, rata-rata ada satu hingga dua paket yang ia kirim kepada pemesan melalui aplikasi pengiriman. Atau diambil langsung oleh pelanggan.
Untuk pembelian dalam jumlah besar, Lia memberikan gratis ongkir jika pesanan lebih dari 20 paket.
Tahun lalu, omzet usaha parsel mereka mencapai sekitar Rp10 juta selama momen Lebaran. Tahun ini, Lia optimis angkanya bisa melampaui capaian sebelumnya, meski belum bisa memastikan totalnya karena pesanan masih terus berdatangan.
Usaha ini dijalankan berdua tanpa karyawan tetap. Namun saat pesanan membludak, mereka memanggil tenaga lepas untuk membantu proses perakitan.
Di balik peningkatan permintaan, ada tantangan yang kerap membuat Lia dan suami harus berpikir cepat. Salah satunya pelanggan yang memesan secara mendadak atau mengubah jadwal pengambilan.
“Kita sudah estimasi waktu, misalnya H-7. Tapi tiba-tiba minta dipercepat. Padahal snack-nya kita pesan online karena di minimarket stoknya terbatas. Jadi harus cari-cari lagi ke mana-mana,” tuturnya.
Meski penuh dinamika, semangat pasangan ini tak surut. Di antara bunyi letupan kecil dari lem tembak dan gulungan selotip yang terus berputar, G7 Project perlahan membuktikan bahwa momen Ramadan bukan hanya tentang berbagi kebahagiaan, tetapi juga membuka peluang cuan bagi pelaku usaha kreatif lokal. (ukt)



