Opini

Longsor dan Banjir di Padarincang: Pentingnya Mitigasi dan Pengelolaan Lingkungan

Oleh Sri Julianti Prihatini, Mahasiswa Universitas Pamulang

Bencana longsor di Kawasan Gunung Kaupas, pada Selasa 6 Januari 2026 dan banjir di Desa Citasuk, Padarincang, Kabupaten Serang, beberapa minggu lalu harus menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Dua peristiwa ini bukan hanya soal kerugian materi, tetapi juga mengungkapkan betapa rapuhnya lingkungan kita.                                              

Hujan deras kerap dianggap sebagai penyebab utama terjadinya banjir dan longsor. Namun, di wilayah tropis seperti Provinsi Banten, intensitas hujan yang tinggi merupakan kondisi yang relatif umum. Oleh karena itu, dampak bencana yang terjadi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor alam, tetapi juga oleh kondisi dan pengelolaan lingkungan. Penurunan tutupan vegetasi di lereng perbukitan serta perubahan fungsi kawasan resapan air menjadi kawasan terbangun tanpa perencanaan yang memadai turut meningkatkan risiko terjadinya bencana. Ketika kondisi lingkungan tidak lagi mendukung, curah hujan yang terjadi dapat membawa akibat yang lebih serius. Hal ini menunjukkan bahwa persiapan lingkungan memiliki peran penting dalam mengurangi risiko terjadinya banjir dan tanah longsor.

Dampaknya jelas terlihat. Saat hujan datang, tanah tidak bisa lagi menahan air dengan baik. Air mengalir deras tanpa terkendali, menyebabkan banjir di wilayah  bawah dan mengikis lereng di atas hingga terjadi longsor. Berdasarkan data Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, sebanyak 504 warga di Kampung Cibodas terdampak, sebagian mengungsi ke sekolah dasar terdekat yang dijadikan tempat pengungsian. Sementara warga lainnya, memilih tinggal di rumah kerabat. Data tersebut menunjukkan bahwa bencana berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Aktivitas terganggu dan sebagian harus meninggalkan rumah demi keselamatan.

Baca juga Longsor di Gunung Kaupas Padarincang Kabupaten Serang

Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya mitigasi bencana dan pengelolaan lingkungan perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Kawasan hijau dan daerah resapan air yang masih ada perlu dijaga agar tetap berfungsi dengan baik. Selain itu, wilayah yang telah mengalami kerusakan perlu dipulihkan secara bertahap. Keterlibatan masyarakat juga menjadi bagian penting, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana agar lebih memahami kondisi lingkungan sekitarnya dan mengetahui langkah yang dapat dilakukan saat muncul potensi bahaya. Upaya mitigasi dapat dilakukan melalui tindakan-tindakan sederhana yang sesuai dengan kondisi wilayah setempat. Pengetahuan masyarakat tentang lingkungan di sekitarnya dapat membantu mengurangi dampak ketika bencana terjadi.

Pemerintah memiliki peran penting dalam upaya pengurangan risiko bencana. Penegakan kebijakan tata ruang dan perlindungan lingkungan perlu dilakukan secara konsisten agar keseimbangan lingkungan tetap terjaga. Pada saat yang sama, kesadaran masyarakat juga menjadi faktor pendukung, karena upaya menjaga lingkungan tidak dapat berjalan efektif tanpa partisipasi bersama. Peran pemerintah dan masyarakat saling melengkapi dalam menjaga lingkungan, serta kerja sama yang baik dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi warga.

Peristiwa bencana di Padarincang mengingatkan kita bahwa situasi lingkungan berkaitan langsung dengan risiko yang dihadapi oleh masyarakat. Cara pengelolaan lingkungan akan berpengaruh besar terhadap efek yang timbul ketika terjadi cuaca yang ekstrem. Oleh karena itu, pengalaman ini harus dijadikan pelajaran bersama. Upaya mitigasi bencana dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan seharusnya dianggap bukan hanya sebagai alternatif, tetapi sebagai langkah krusial untuk melindungi keselamatan masyarakat dan memastikan keberlangsungan hidup di masa mendatang. Pengalaman yang telah terjadi ini bisa menjadi Pelajaran berharga untuk dievaluasi bersama oleh semua pihak terkait. Dengan melakukan pembenahan pada pengelolaan lingkungan hidup secara berkelanjutan, diharapkan potensi terjadinya bencana serupa dapat diminimalkan di waktu mendatang.

Menghadapi ancaman bencana memerlukan perhatian dan kerja sama semua pihak. Tindakan sederhana, seperti menjaga lingkungan dan lebih siap menghadapi keadaan darurat, dapat membantu mengurangi dampaknya. Jika dilakukan secara konsisten, upaya ini dapat menurunkan risiko bencana. Peristiwa yang telah terjadi menjadi suatu pengingat bahwa upaya pencegahan lebih utama daripada penanganan setelah terjadinya bencana. Jika pengelolaan lingkungan dan pengawasan penggunaan lahan tidak ditingkatkan, maka kemungkinan terjadinya risiko yang sama akan terus muncul setiap kali musim hujan tiba. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama yang kuat untuk menjadikan perlindungan lingkungan sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan masyarakat secara berkelanjutan. (**)

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button