Berharap Tranformasi Sungai Cibanten
Obrolan di Rumah Singgah Fesbuk Banten News (FBN), Jalan Gelatik Komplek Tegal Padang, Drangong, Taktakan, Kota Serang, Selasa siang (12/5/2026), berlangsung santai namun tetap berisi.
Lima mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Untirta datang bukan sekadar untuk wawancara tugas kuliah. Mereka ingin melihat lebih dekat bagaimana Sungai Cibanten perlahan berubah wajah — dari sungai yang dulu dipenuhi sampah menjadi ruang yang mulai kembali hidup.
Di hadapan Ketua Komunitas Peduli Sungai Banten (KPSB), Lulu Jamaludin, para mahasiswa mendengarkan cerita tentang proses panjang menjaga sungai. Bukan pekerjaan sehari dua hari, melainkan perjuangan yang dibangun lewat gotong royong, edukasi, hingga kesadaran masyarakat yang terus ditumbuhkan.
Bintang Nuhroho, salah satu mahasiswa Untirta, mengatakan kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk memahami bagaimana kolaborasi masyarakat dan pemerintah dapat menghadirkan perubahan nyata terhadap lingkungan.
“Kami membahas transformasi Sungai Cibanten serta peran masyarakat dan pemerintah dalam menjaga sungai,” ujarnya.
Baca juga Bersih-bersih Sungai Cibanten Dorong Program Wisata Sungai
Bagi mereka, Sungai Cibanten bukan hanya tentang aliran air yang membelah Kota Serang. Sungai itu kini menjadi simbol bahwa lingkungan yang sempat rusak masih bisa dipulihkan ketika ada kepedulian bersama.
Dulu, kawasan sungai identik dengan tumpukan sampah dan kondisi kumuh. Kini, perlahan wajahnya berubah. Air mulai terlihat lebih bersih, bantaran sungai mulai tertata, bahkan kawasan tersebut mulai dilirik sebagai ruang wisata air oleh masyarakat sekitar.
Perubahan itu, menurut Bintang, menghadirkan dampak yang lebih luas dari sekadar kebersihan lingkungan.
“Lingkungan yang bersih ternyata juga membuka peluang ekonomi dan wisata bagi masyarakat sekitar,” katanya.
Di tengah meningkatnya persoalan lingkungan di berbagai daerah, kisah Sungai Cibanten menjadi contoh kecil bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Kadang, perubahan justru lahir dari komunitas-komunitas yang bekerja secara konsisten di lapangan.
Lulu Jamaludin mengaku senang melihat generasi muda mulai tertarik mempelajari isu lingkungan secara langsung. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting untuk menumbuhkan kesadaran publik, terutama di tengah masih rendahnya kepedulian terhadap kebersihan sungai.
“Mahasiswa diharapkan ikut menjaga dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kebersihan sungai,” ujarnya.
Bagi Lulu, menjaga sungai bukan hanya tugas komunitas atau pemerintah semata. Sungai adalah ruang hidup bersama yang manfaatnya kembali kepada masyarakat sendiri, mulai dari lingkungan yang sehat hingga peluang ekonomi warga.
Karena itu, kegiatan bersih sungai dan edukasi lingkungan terus dilakukan secara berkelanjutan. Sedikit demi sedikit, kesadaran masyarakat mulai tumbuh.
Di akhir pertemuan, diskusi siang itu meninggalkan satu pesan sederhana: sungai yang bersih bukan sesuatu yang mustahil. Ia bisa terwujud ketika masyarakat berhenti melihat sungai sebagai tempat membuang masalah, lalu mulai memandangnya sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga bersama. (red)






