Pemprov Banten Mau Bikin Proyek SMK Industri di Cikande dan Sawah Luhur

BANTEN – Pemerintah Provinsi Banten bersama Yayasan SMK Mitra Industri MM2100 tengah menggagas pengembangan pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan dunia industri. Program ini akan diwujudkan melalui pembangunan dua SMK vokasi sebagai proyek percontohan di kawasan Industri Modern Cikande, Kabupaten Serang, dan kawasan Industri Sawah Luhur, Kota Serang.
Saat ini, Yayasan SMK Mitra Industri MM2100 sedang melakukan studi kelayakan (feasibility study/FS) di kedua lokasi tersebut. Kajian mencakup faktor lokasi, topografi, jumlah anak usia sekolah, keberadaan SMK di sekitar wilayah, hingga pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
Gubernur Banten, Andra Soni mengatakan, ia berkomitmen untuk merealisasikan pendidikan vokasi yang benar-benar terhubung dengan kebutuhan dunia kerja (link and match).
Menurutnya, pendidikan vokasi menjadi langkah strategis dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) unggul sekaligus menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Banten.
“Bagaimana lulusan SMK itu harus benar-benar siap kerja,” ujar Andra Soni dalam keterangan tertulis yang diterima banteninside, Jumat (15/05/206).
Menurut Andra, model pendidikan yang telah diterapkan yayasan tersebut di berbagai daerah dapat dikembangkan di Banten. Terlebih, Provinsi Banten memiliki posisi geografis strategis sebagai penghubung Pulau Jawa dan Sumatera serta berdekatan dengan ibu kota negara.
Saat ini tercatat sekitar 8.924 industri beroperasi di Provinsi Banten, mulai dari skala kecil hingga besar. Dengan potensi tersebut, pengembangan pendidikan vokasi dinilai penting agar lulusan SMK dapat terserap sebagai tenaga kerja profesional yang sesuai kebutuhan industri.
Sementara itu, Ketua Yayasan SMK Mitra Industri MM2100, Darwoto, menjelaskan bahwa keunggulan utama lembaganya terletak pada pendidikan karakter yang dipadukan dengan pelatihan berbasis industri. Program ini dirancang agar peserta didik mampu beradaptasi secara optimal dengan lingkungan kerja industri.
“Kami siap berkolaborasi dengan Pemprov Banten dalam menyiapkan SDM yang unggul,” katanya.
Berdasarkan hasil kajian awal, kedua kawasan industri tersebut memiliki peluang besar, meski persaingan dalam mendapatkan peserta didik cukup tinggi. Hal ini disebabkan jumlah siswa SMA dan SMK yang lebih besar dibanding lulusan SMP.
Darwoto juga menyoroti bahwa sebagian besar SMK di sekitar kawasan industri masih didominasi jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), sementara kebutuhan industri lebih banyak pada sektor manufaktur dan logam. Karena itu, ia merekomendasikan pembukaan jurusan yang lebih relevan dengan kebutuhan.
Menurutnya, terdapat dua model kerja sama yang bisa diterapkan, yakni partnership dan kolaborasi, sesuai Permendikbud Nomor 36 Tahun 2014.
“Di Mojokerto, kami menerapkan model partnership, di mana sekolah memiliki bangunan dan izin, sementara kami mengelola operasionalnya. Sedangkan di Deltamas, modelnya kolaborasi, dengan kerja sama kurikulum dan supervisi,” jelasnya. (ukt)



