Keresahan Mahasiswa Atas Ketimpangan Pendidikan di Banten Tumpah di KP3B
Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) kembali menjadi saksi atas keresahan mahasiswa tentang sekolah-sekolah yang jauh dari kata layak, dan mimpi anak-anak yang belum sepenuhnya mendapat tempat.
Keluarga Mahasiswa Lebak (KUMALA) Perwakilan Serang datang membawa satu pesan sederhana: pendidikan di Banten belum merata. Bagi mereka, Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan sekadar seremoni, tapi momen untuk benar-benar bercermin.
Riko Roland, Ketua Kumala PW Serang, berdiri di tengah kerumunan. Dengan suara tegas, ia bercerita tentang kondisi di kampung halamannya, Kabupaten Lebak.
Di sana, kata dia, masih banyak sekolah yang kekurangan fasilitas dasar. Ruang kelas yang seadanya, akses teknologi yang terbatas, hingga jarak tempuh yang tidak mudah.
“Kalau di kota mungkin sudah bicara digitalisasi, di pelosok masih ada yang berjuang dengan bangunan dan fasilitas,” ujarnya.
Baca juga Pendidikan yang Dijual Mahal
Kontras itu terasa nyata. Di satu sisi, wilayah perkotaan menghadapi persoalan mahalnya biaya pendidikan. Di sisi lain, daerah pedesaan masih bergulat dengan persoalan paling mendasar: akses.
Bagi Kumala, ketimpangan ini bukan sekadar data atau angka statistik. Ini soal kesempatan yang tidak sama. Tentang anak-anak yang harus berjuang lebih keras hanya karena mereka lahir jauh dari pusat kota.
Masalah lain yang ikut disorot adalah distribusi guru. Tidak semua daerah memiliki jumlah dan kualitas tenaga pendidik yang sama. Akibatnya, pengalaman belajar siswa pun berbeda—ada yang mendapat fasilitas lengkap, ada yang harus puas dengan keterbatasan.
Di tengah itu semua, masih ada anak-anak yang bahkan belum bisa mengenyam pendidikan. Angka anak tidak sekolah di Banten, terutama di Lebak, menjadi pengingat bahwa persoalan ini belum selesai.
Namun, aksi hari itu bukan hanya tentang kritik. Ada harapan yang disuarakan. Kumala mendorong pemerintah untuk lebih serius membenahi pendidikan, mulai dari pemerataan infrastruktur, distribusi guru yang adil, hingga peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik.
Bagi mereka, perubahan tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Pendidikan, kata Riko, harus dibenahi dari akarnya.
Menjelang senja, suara orasi perlahan mereda. Tapi pesan yang ditinggalkan tetap menggema: bahwa di balik peringatan Hari Pendidikan Nasional, masih ada pekerjaan besar yang belum selesai.
Dan mungkin, seperti yang diharapkan para mahasiswa itu, perubahan besar selalu dimulai dari suara-suara kecil yang berani didengar. (***)






