Ekonomi Bisnis

Uang Cepat Habis, Minat Menabung Menipis

Ada satu kebiasaan yang diam-diam mulai berubah di banyak rumah tangga, yaitu menabung. Bukan karena tak mau, tapi karena semakin sulit dilakukan. Data terbaru dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memberi gambaran yang cukup jelas dan agak mengkhawatirkan.

Dikutip dari lps.go.id, pada Maret 2026, Indeks Menabung Konsumen (IMK) turun ke level 79,5. Angka ini mencerminkan realitas bahwa uang yang masuk terasa semakin cepat habis sebelum sempat disisihkan. Dua komponen utamanya pun ikut melemah. Indeks Kemampuan Menabung (IKPM) turun menjadi 72,0, sementara Indeks Kemauan Menabung (IKMM) merosot ke 87,1.

Di balik angka-angka itu, ada cerita keseharian. Pengeluaran meningkat tajam, terutama menjelang dan selama Idulfitri. Kebutuhan melonjak, dari bahan makanan hingga ongkos perjalanan. Tak sedikit pula pengeluaran tak terduga yang ikut menggerus sisa pendapatan.

Baca juga Inflasi Banten Naik ke 3,55 Persen, Penyebab Utama Akibat Tekanan Energi dan Pangan

Akibatnya, semakin sedikit orang yang bisa menabung secara rutin. Persentase responden yang mengaku sering menabung turun dari 19 persen menjadi 17,7 persen. Sementara itu, semakin banyak yang merasa jumlah tabungan mereka tidak sesuai rencana, melonjak dari 35,5 persen menjadi 40,7 persen.

Lebih jauh lagi, muncul perubahan persepsi. Lebih dari separuh responden kini merasa ini bukan waktu yang tepat untuk menabung. Bahkan, pandangan pesimis itu masih berlanjut ketika mereka melihat tiga bulan ke depan.

Jika ditarik ke kelompok pendapatan, tekanan paling terasa pada rumah tangga berpenghasilan Rp1,5 juta hingga Rp3 juta per bulan. Di kelompok ini, penurunan IMK paling dalam terjadi. Sementara kelompok berpenghasilan di atas Rp7 juta justru masih relatif aman, bahkan mencatat penguatan dan tetap berada di atas level optimis.

Cerita serupa terlihat pada tingkat kepercayaan konsumen. Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) ikut melemah ke level 91,8, terendah sejak Oktober tahun lalu. Penurunan ini menunjukkan, masyarakat mulai merasa kondisi ekonomi saat ini tidak sebaik sebelumnya.

Penilaian terhadap situasi saat ini, terutama terkait lapangan kerja dan ekonomi lokal, menjadi faktor utama pelemahan. Harga kebutuhan pokok yang naik, sulitnya mencari pekerjaan, hingga persoalan di sektor pertanian seperti gagal panen dan mahalnya pupuk turut mempertebal tekanan.

Belum lagi faktor musiman. Permintaan yang meningkat selama Ramadan dan Lebaran mendorong harga pangan naik. Di saat yang sama, penyesuaian harga BBM nonsubsidi ikut mendorong biaya transportasi, mempercepat laju pengeluaran.

Meski begitu, tekanan itu, masih menyisakan harapan. Indeks Ekspektasi masih berada di atas 100, tepatnya 106,5. Artinya, meskipun kondisi hari ini terasa berat, banyak orang masih percaya keadaan akan membaik. (red)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button